Ibu harus bisa…(2)

Mengais rezeki di kota besar memang sangat berbeda rasanya! 

Bagaimana tidak, setiap sudut kota penuh dengan kendaraan yang pastinya menimbulkan kemacetan. Mulai kendaraan roda dua, tiga, empat bahkan lebih, seolah semua berebut mendapatkan space di jalanan. 

Ada juga kereta listrik (krl) yang membantu mobilisasi pekerja di kota ini, meskipun gerbongnya banyak, tetap saja tidak dapat mengakomodasi jumlah orang yang menggunakan jasa krl. Sempit, padat dan panas, mungkin tiga kata itu yang dapat menggambarkan krl di saat peak time. Tidak nyaman sama sekali!

Tapi apa boleh buat, kondisi ini terpaksa dijalani karena tidak ada pilihan lain, ingin kena macet yang nantinya akan telat sampai ke kantor atau ingin desak-desakan tapi akan lebih pasti sampainya di kantor. Memang pilihan yang sulit , tapi mau tidak mau, yaa harus pilih!

“Lebih capek dijalan dibandingkan ngerjain kerjaannya” kata suamiku sepulang kantor sambil menaruh tas dan langsung merebahkan diri di atas matras. “Capeeek…remuuuk” seringkali kata-kata itu yang aku dapatkan dari mulutnya ketika pulang kerja.

Kasihan sih sebetulnya, tapi ya memang itulah konsekuensi bekerja di kota besar. Bukan seribu-dua ribu yang menaruhkan hidup di sini, mungkin puluhan atau bahkan ratusan jiwa yang bekerja untuk melanjutkan hidup mereka kedepannya, disini, di kota ini, Jakarta.

Apa yang bisa dilakukan seorang istri/ibu?

Ya apalagi kalau bukan pijat.

Memijat


Saya yakin, mood setiap orang akan berubah lebih baik ketika badan letih, ada yang menawarkan pijat terhadap dirinya, terlebih dari istrinya sendiri. Maka setiap merasa letih di jalan, yang dibayangkan ketika pulang, disambut istri dengan pijatan terbaiknya. Yakinlah, hal ini yang memotivasi suami untuk segera pulang, bertemu dengan istri dan rehat dari brutalnya dunia luar.

Tapi pertanyaannya, apakah kita sebagai istri/ibu mau melakukannya? 

Lagi-lagi ada saja alasan, semisal : sudah capek juga menjalankan aktivitas diluar atau dirumah, tidak punya kemampuan memijat, takut salah urat, dll.

Padahal ketika kita punya motivasi eksternal yaitu rasa sayang dan berharganya suami, maka perasaan capek akan dapat ditepis dan perasaan tidak capable memijat juga dapat dibuang jauh dengan cara belajar memijat. Begitu berpahalanya istri ketika melayani suami dengan baik 🙂 

Demikian juga dengan anak-anak, saya sendiri membiasakan pijat anak-anak sejak mereka baru lahir. Selain ada kaitannya dengan stimulasi syaraf mereka, setidaknya ada bonding antara saya dan anak-anak ketika proses memijat. Sampai saat ini pun anak saya masih sering minta dipijat, meskipun tidak merasa capek, tapi anak saya senang dipijat karena pijat membuat dia merasa sangat dekat dengan ibunya.

Memang tidak mudah, selalu ada saat suami dan anak-anak butuh, bahkan untuk hal ini sebetulnya sangat sulit bagi saya, tapi tetaplah berusaha, berusaha terus menjadi istri sekaligus ibu yang baik untuk suami dan anak-anak.

Banyak hal kan yang dapat membuat mereka kangen pada kita, pada perbuatan kita dan lama kelamaan mereka akan merasa tidak ada yang dapat menggantikan istri dan ibu mereka sampai kapanpun. Insya Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s