Demi Anak

Memiliki anak merupakan amanah terbesar untukku. Selama aku hidup, banyak tanggungjawab yang mesti di hadapi, inilah yang terberat.

Anak bukan saja berbicara masalah hamil, melahirkan, makan dan minum, itu perkara mudah. Tapi mendidiknya menjadi anak yang shaleh- shalehah, tidak mudah terpengaruh orang dan lingkungan yang buruk, amanah pada orang tua dan takut pada Allah, itu yang paling sulit. 

Orang tua seperti saya dan suami masih sangat kurang ilmu untuk mendidik mereka jadi yang diharapkan tersebut, namun kami tetap terus berusaha, terus belajar untuk mencapainya. Semoga Allah memudahkan.

Dari Alya kecil tidak pernah saya meninggalkannya lebih dari dua jam, kecuali saat harus menginap di rumah sakit untuk melahirkan Syamil. Saya memutuskan untuk berhenti bekerja saat itu juga demi anak, padahal jika saya egois, bisa saja saya cari pembantu, bayar mahal dan meninggalkannya di rumah. Lumayan, saat itu karir saya cukup baik dan kemungkinan di berangkatkan studi ke negara lain lalu di assign di kantor dengan gaji meningkat juga bisa saya dapatkan, saat itu saya sudah berada di posisi supervisor, setingkat dibawah manager dan memiliki bawahan lebih dari 150 orang. Wow! Jujur, saya bangga akan hal itu, tapi bukan itu yang saya cari.

Memutuskan menjadi ibu rumah tangga (baca : demi anak) bukan hal yang mudah, saya mesti bicarakan baik-baik dengan orangtua dan suami. Paling berat saat itu adalah pada orang tua, bagaimana tidak, menurut mereka, saya disekolahkan tinggi-tinggi tujuannya agar saya bisa bekerja, berdiri di kaki sendiri, ya singkatnya saya sudah mengecewakan mereka. Belum lagi tante dan om yang banyak jumlahnya, sedikit menyayangkan mengapa harus berhenti bekerja, apa tidak ada cara lain? Setiap bertemu mereka, tidak jauh-jauh pembicaraan mereka hanya seputar “sayang kamu berhenti!”, “bodohnya harus meninggalkan pekerjaan yang bagus, padahal zaman sekarang cari kerja susah!” Berat memang, kehilangan prestige. Ya, saya hanya bisa diam dan merasa percuma menjelaskan alasannya, demi anak, hanya itu.

Saya merasa, Allah memberikan amanah anak bukan untuk nenek, om tante apalagi pembantu, yang nota bene orang lain dengan tingkat pendidikan sekedarnya, anak adalah amanah untuk orangtuanya, khususnya ibu, bukan mereka-mereka itu.

Saat ini saya memiliki dua anak, dimana mereka terpaut cukup jauh, 4 tahun 2 bulan. Mempunyai dua anak yang alhamdulillah sepasang, sebuah anugerah yang membahagiakan buat saya dan suami. Tidak mudah memang, memiliki anak lebih dari satu dan mengurus semua sendiri, apalagi sekarang kakaknya sudah punya ego sendiri, sudah punya keinginan sendiri. Menurutku yang sudah pernah menjalankan dua episode, jadi wanita karir dan irt, lebih mudah bekerja di luar atau wanita karir, meskipun ada tekanan di kantor, tapi masih bisa haha hihi sama teman-teman, ketimbang jadi full time mother/stay at home mom/ibu rumah tangga. Sekali lagi, demi anak.

Mengurus anak yang balita dengan bayi juga berbeda rasanya, banyak yang bilang “Gimana mba? Sudah sering bangun malam? Capek?” Pastinya iya, tapi masih enak karena bayi masih hanya bisa menangis, tinggal ibunya saja bermain dengan feeling, apa menangis karena haus, mengantuk, suhu ruangan, popok basah, pup dll. Sementara jika sudah memasuki usia balita, sudah banyak maunya, sudah mengajak berdebat, menawar apa yang dia inginkan dengan yang kita inginkan, memaksakan kehendak pada orangtuanya, adakalanya tidak mau menuruti permintaan kita, banyak pertanyaan yang kita sendiri tidak tau jawabannya, menantang apa yang tidak diperbolehkan, pokoknya lebih banyak tantangannya, tantangan untuk selalu bersabar pada balita. Lebih capek hati menghadapi balita dan capek fisik menghadapi bayi. 

Memang sudah konsekuensinya, sebagai orangtua, khususnya ibu, harus terus belajar, tidak ada sekolah yang mengajarkan bagaimana menjadi ibu. Malah psikolog sekalipun mungkin mengalami kesulitan juga ketika menghadapi balita dan fase-fasenya, teori yang pernah dipelajari sudah terbang jauh saat harus menghadapi berbagai macam karakter balita secara langsung.

Menyesal menjadi irt?

Tidak.

Sejujurnya memang ada saat saya merasa bosan dengan peran ini, kadang merasa tidak produktif dll (persis seperti postingan saya sebelumnya “SAHM oh SAHM”). Tapi ketika melihat wajah kedua buah hati, sedikit banyak, ada rasa kasihan dan sayang, jika masa kecil mereka terlewatkan. Mereka lebih butuh ibunya, lebih butuh saya dibandingkan perusahaan-perusahaan diluar sana.

Apalagi jika kita bandingkan dengan zaman kita dulu, sepertinya sudah banyak berubah. Sekarang, memantau anak adalah hal yang paling wajib dilakukan orangtua, sudah banyak tindakan kriminalitas diluar sana, baik secara fisik maupun mental, sebut saja pedofil, penculikan, penjualan anak, pembunuhan dan penjualan organ tubuh, prostitusi dan masih banyak hal negatif lainnya.

Ngeri, takut dan khawatir jikalau anak terpapar hal buruk diluar sana, rambut sama hitam, dalam hati siapa yang tahu, tidak terlacak siapa yang benar-benar baik dan buruk bagi anak kita. Saya merasa berdosa sebesar-besarnya jika harus menyerahkan proses pemantauan ini pada orang lain, yang tidak paham siapa mereka. Apa lebih berharga uang dan prestige dibandingkan anak, yang belum tentu selamat dalam asuhan kita sebagai orangtua, apalagi asuhan orang lain? Saya pribadi berpikir seperti itu, sembari terus berdoa agar anak-anak dijaga terus oleh Allah SWT dan selalu mengingatkan ayah mereka untuk mencari uang halal bagi keluarga.

Sebagai ibu bagi anak-anak, saya bertekad untuk memberikan yang terbaik bagi mereka, mulai dari asupan untuk mereka, ASI selama 2 tahun, lalu makanan, berikan makanan yang baik, no msg, no vetsin dan menggunakan bahan yang berkualitas, air dan susu yang rutin diberikan sampai asupan ruhiyah, baik itu shalat, mengaji, bersosialisasi cara islami dll, meskipun mereka belum mengerti dan ikut sepenuhnya, setidaknya saya berusaha memberikan teladan untuk mereka.

Untuk stimulasi, berikan bahan belajar sesuai usia mereka, jadwalkan menonton dan penggunaan gadget, banyak membaca buku yang bermanfaat untuk mereka, iqra, menghapal surah dan doa-doa lalu mengamalkannya. Inilah bagian yang paling sulit, menunggu mood mereka baik, lalu masukkan bahan pembelajaran itu, pelajari bersama. Seringkali anak tidak mau belajar, apalagi belajar iqra dan hapalan, anak sudah kabur duluan, tapi tak mengapa, coba ibu juga ikut belajar lalu mereka mencontohnya. Jika ibu ingin anak kutu buku, ibu dulu yang harus menjadi kutu buku. Jika ibu ingin anak hafidz dan rajin baca quran, apakah ibu sudah seperti itu? Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, bagaimana ibunya, ya seperti itulah anak-anaknya. Tanggung jawab moral yang sungguh luar biasa 😉

Mengenalkan komunikasi dan aktivitas sosial lainnya juga penting lho! Sekaligus ajak mereka berteman dengan anak-anak seusia mereka. Hal ini bertujuan agar mereka tidak individualis, belajar toleransi dengan orang lain, memahami banyak karakter orang lain yang berbeda dengan dirinya dan dapat bergaul dengan siapa pun yang mungkin tidak setipe dengan dirinya. Orangtua bertanggungjawab memilihkan teman yang baik untuk mereka, lihat aktivitas bermain yang dilakukan, apakah baik untuk anak atau tidak, jika tidak, maka alihkan anak pada aktivitas lainnya yang lebih bermanfaat. Saya rela menemani Alya bermain diluar sana bersama teman-temannya sampai 2 jam bahkan lebih, karena saya memahami bahwa bermain itu kebutuhan Alya, kebutuhan anak. Biarlah Alya berkotor-kotor ria bersama teman-teman, main air, lari-larian, dll, sampai dirumah tinggal mandi yang bersih, ganti semua pakaian, lalu beristirahat. Saya tinggal memilihkan jadwal yang pas untuk Alya bermain kotor-kotoran, jam 2.30 siang misalnya, agar pulang sekaligus mandi sore.

Masih banyak hal yang menjadi tanggung jawab ibu, mempersiapkan mental anak menghadapi sekolah, mempersiapkan kemandirian anak ketika sekolah, misalnya bisa membersihkan pee dan pup sendiri, ini masih menjadi PR buat saya sebagai ibu.

Sungguh masih banyak lagi yang harus ibu lakukan, tidak semata menyerahkan tanggung jawab ibu pada sekolah anak.

Ya..itu secuplik pengalaman saya.

Semoga memberikan inspirasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s