Mengajarkan anak cinta baca

Alyanna, sejak kecil sudah dibiasakan tidak ketergantungan dengan televisi. Kebetulan, saya tidak terlalu suka menonton tv, tv akan menyala jika ada film kartun terpilih atau berita yang cukup hangat menyita perhatian khalayak ramai. Ternyata sikap saya ini membuat alya terbiasa tidak menonton tv, mungkin jika di rumah tidak ada tv, tidak akan ada pengaruhnya untuk kami. Beda halnya dengan ayah, sejak dulu dalam pengasuhan orang tua, tidak pernah lepas dari kotak bergambar itu, sehingga sampai saat ini pun ayah tidak dapat lepas dari tv, tapi kami sudah mengkomunikasikan pendidikan dalam keluarga kedepannya untuk meminimalisir ‘menonton’ bagi mereka, sehingga ayah jadi jarang menyalakan tv di depan anak-anak. Memang perlu adanya saling dukung antara kedua orang tua untuk membentuk kebiasaan anak-anak. 

Saya menyadari, saat ini televisi sangat jarang menyediakan layanan yang baik untuk tumbuh kembang anak. Channel yang ditawarkan juga tidak membentuk karakter anak jadi lebih baik, bahkan sebaliknya. Seperti halnya, gosip, sinetron, film box office atau movievaganza, berita yang tidak netral, sampai pada film kartun yang tidak semuanya baik untuk mereka. Saya sebagai ibu, hanya memperbolehkan mereka untuk mengkonsumsi tontonan yang banyak nilai positifnya, misalnya, film kartun zona ceria di rt* seperti pororo (seekor pinguin yang tinggal di hutan salju dengan beberapa sahabatnya), chungginton (kereta yang memiliki kegiatan super sibuk), cloud bread (dua ekor kucing yang suka makan roti awan buatan ibu mereka, dengan memakan roti tersebut, mereka dapat terbang kemanapun mereka suka untuk menolong sesama dan mengajarkan kita untuk melakukan hal-hal baik) ini kartun yang the best menurut saya, ada juga robocar poli (kendaraan yang saling mendukung untuk membantu siapapun yang membutuhkan mereka), hutos mini-mini (manusia kecil yang hidup bersama dan suka melakukan petualangan besar), dan masih banyak lagi yang lainnya.

Orang tua harus pintar memilah apa yang baik untuk ditonton oleh anak-anak. Saya biasanya ikut menonton bersama alya terlebih dahulu, dengan begitu, saya tahu apakah tayangan tersebut baik ditonton oleh alya atau tidak. Meskipun judulnya film kartun, tidak semua film kartun mengajarkan kebaikan, banyak adegan yang buruk yang diajarkan, misalnya memukul, perang, mengejek, marah, jahil, dll yang tidak baik untuk dicontoh, sementara mereka adalah peniru ulung! Khawatirnya, saat melihat tayangan yang kurang baik, malah hal yang kurang baik tersebut yang ditiru, bukan hal yang baiknya. Iklan yang lewat diantara tayangan juga harus diperhatikan, banyak iklan yang tidak senonoh ditampilkan di tv, misalnya pakaiannya, adegannya, kata-kata yang disampaikan, dll, malah jika diperhatikan, sekarang-sekarang ini banyak iklan yang menjurus ke pornografi.  Meskipun hanya beberapa menit, tapi anak tetap tidak pantas melihatnya, sehingga ketika terlihat, maka ada kemungkinan lekat di pikiran mereka. Na’udzubillahiminzalik. Usahakan ketika menonton tv, orangtua selalu mendampingi sambil memegang remote dan leluasa mengganti channel jika tidak pantas dilihat oleh anak.

Dari alya kecil, sekitar umur 6 bulan, saya sudah membelikan buku untuknya, buku pertama yang sekarang sudah entah dimana, disobek oleh alya kecil dan terpaksa di buang. Sejak saat itu, alya suka sekali dibacakan buku cerita, bahkan bukan sekali dua kali, mungkin lebih dari 10 kali saya harus membacakan cerita untuknya. Setiap bulan, saya dan ayah rutin membelikan buku cerita untuknya, pastinya buku yang dibelikan juga buku yang lebih banyak gambar berwarna-warni daripada tulisan, sehingga alya kecil akan tertarik melihat buku tersebut.

Seiring berjalannya waktu, alya semakin besar dan sudah dapat memilih bukunya sendiri, biasanya kami memilihkan buku pengenalan dunia dan sekitarnya atau yang ada kaitannya dengan pembentukan karakter anak. Pernah satu ketika saya ditawarkan untuk membeli buku ensiklopedia, saya pikir alya tidak tertarik karena bukunya yang sangat tebal untuknya, sehingga saya niat beli untuk disimpan saja dulu, mungkin nanti ketika sekolah, dia akan tertarik, eh ternyata baru saja saya beli alya sudah minta dibacakan dan tidak ingin berganti bacaan sampai selesai, hal ini dilakukan berulang-ulang. Mulut sampai haus membacakannya cerita berulang-ulang, tapi tidak menyurutkan semangat saya untuk membuatnya rajin membaca :). Dari kecil saya suka membaca dan saya akan menularkan kebiasaan saya ini pada anak-anak saya. Buat saya, mungkin tidak semua buku tertarik untuk dibaca, tapi ketika buku tersebut menarik, maka saya tidak akan bosan membacanya berulang-ulang.

Ketika alya berumur sekitar 2 tahun lebih, kami menambahkan majalah untuk keseharian alya, majalah ini terbit setiap dua minggu sekali. Majalah yang cukup tipis bagi saya tapi butuh sekitar 1 minggu lebih untuk alya kecil menyelesaikannya. Tidak masalah, yang penting dari majalah ini alya kecil dapat pelan-pelan belajar. Setidaknya berkaitan dengan motorik halus dan kognitifnya seperti, memegang alat tulis, menghubungkan titik-titik, mewarnai, bercerita dll. Majalah sangat membantu saya dalam mengajarkan banyak hal bagi alya kecil, dari majalah ini pula, alya dapat pelan-pelan menulis, mengenal huruf dan pada akhirnya alya dapat membaca dengan lancar juga salah satunya karena bantuan majalah ini. Majalah ini bernama mombi.

Sampai saat ini, alya berumur 4 tahun 5 bulan, alya masih tetap suka membaca, bedanya, dahulu alya suka dibacakan oleh saya, sekarang tidak perlu dibacakan lagi, alya sudah dapat membaca dengan lancar sendiri, tanpa terbata, tanpa di eja. Alya juga sudah dapat memilih bukunya sendiri, buku yang paling disenangi alya saat ini adalah buku yang berkaitan dengan belajar, misalnya menulis, mewarnai, berhitung, bentuk benda, menempel, menggunting dalam satu buku yang tebal. Biasanya buku semacam ini memiliki sekitar 100-200 halaman, tapi akan selesai tidak lebih dari 3 minggu oleh alya. Pastinya karena kemauannya sendiri. Good job nak!

Yang jelas, jangan memaksa anak untuk mencintai sesuatu, sebelum orangtuanya sendiri yang mencintai hal tersebut dan konsisten menjalankannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s