Toilet training itu susah? Yuk simak pengalaman saya :)

Ada yang bingung toilet training anak?

Pernah ada aja yang nanya, 

“Alya pake diapers sejak bayi ya?”

“Iya”

“Trus ga ngangkang jalannya?”

“Ga sih, alhamdulillah”

“Ga ada masalah dengan organnya selama pake diapers?”

“Alhamdulillah g ada masalah berarti, paling klo agak iritasi, pake krim zinc oxide aja”

“Sampe kapan pake diapers?”

“Sampe 2,5 tahun, pas 2,5 tahun teng, ga ada make diapers lagi”

“Gimana caranya?”

“Tinggal dijelaskan aja perbedaannya pee apa, rasanya dimana dan pup apa, rasanya dimana. Bilang klo mau pee dan pup sebelum dikeluarkan. Berkala bawa ke kamar mandi, misal per 2 jam sekali. Pee atau pup keceplosan itu wajar ahh. Tapi alhamdulillah Alya pup keceplosan cm pas diare dulu banget, pas toilet training ga pernah. Pee juga keceplosan sekitar 3 kali di siang hari dan 1 kali di malam hari karena bundanya lupa bawa ke kamar mandi sebelum tidur padahal saat itu minumnya banyak banget. Setelah itu ga pernah pake diapers lagi sampai saat ini. Alhamdulillah tidak terlalu ribet melatihnya toilet training dan ga perlu modal besar :)'”

“Susah ya?”

“Iya susah-susah gampang, perlu kekonsistenan dari bundanya dan percaya pada anak bahwa dia mampu”

“Oh gitu..”

“Semoga dimudahkan ya”

Toilet training
Kalau dipikir-pikir memang susah. Tapi jangan kebanyakan mikir ah, langsung aja eksekusi.

Saya pribadi lebih memilih toilet training ketika anak sudah dapat bicara dan sudah mengerti ketika diajak komunikasi. Dengan begitu, saya tidak perlu mengulang berkali-kali untuk mengajarkannya pee dan pup di kamar mandi. Berbeda dengan anak yang belum bisa bicara tapi sudah diajarkan pup dan pee di kamar mandi, jangankan menyampaikan apa yang dirasa, menyadari pup dan pee saja mungkin perlu waktu beberapa menit. 

“Eh, sudah keluar toh”

Malah orang tuanya yang duluan tahu.

Pee dimana-mana, pup dimana-mana. Najis buat para orang tua yang mau shalat, tapi mau bagaimana lagi? Jangan terlalu pusing dengan hal ini. Ketika sudah terjadi, yang perlu bunda lakukan, ambil kain lap, bilas dengan cairan antiseptik dan pel dengan cairan pewangi lantai. Saran saya sih, jika memang susah dengan kondisi yang seperti itu, bawa aja anaknya berkala ke kamar mandi, tapi tetap diberikan diapers. Ketika anak sudah terlihat mampu membiasakan pup dan pee di kamar mandi, buka diapers nya, gantikan dengan celana dalam biasa.

Ada juga lho, anak yang takut dengan bunyi flush di kamar mandi. Jika anak takut, maka flush ketika anak sudah keluar dari kamar mandi.

Ketika kita sudah berkomitmen toilet training anak, maka pelan-pelan jauhkan diapers dari anak. Mereka dapat sukses toilet training jika bunda konsisten mengajarkannya.

Semoga toilet trainingnya menyenangkan ya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s