Anak tak diharapkan

Ayah dan ibuku membuat aku takut.

Teriakan dan suara dentuman barang yang dengan kuat dilemparkan membuatku merasa sangat tertekan.

Apa yang mereka permasalahkan sehingga harus sering ribut seperti ini?

Aku bingung dengan semuanya.

Aku lihat di album foto, ayahku memeluk mesra ibuku. Mereka sangat hangat.

“Saat itu, kau masih di kandungan ibu, nak.” Ibuku mengelus kepalaku.

“Setelah kau hadir, semua berubah.” Pernah ayahku berkata.

“Apa salahku bu?” Aku bertanya pada ibu.

“Tidak ada nak, tidak ada yang salah” Ibuku menenangkanku.

Tiba-tiba suara ibu menakutkanku.

Suara teriakannya begitu besar membahana.

Aku keluar dari kamar, tergopoh-gopoh. Aku mendapati ibuku bersimbah darah. Beliau menatapku nanar, “Maafkan ibu nak, dia bukan ayahmu. Ini salah ibu.”

Hari ini baru aku tahu, ibu kembali ke pangkuan pacar gelapnya ketika ayah bekerja di luar kota.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s