Hadiah terindah untuk suamiku

Tidak seperti biasanya, rumah rapi jali, wangi dan berseri. Tidak ada pakaian kotor yang menumpuk di kamar mandi, tidak ada pula sampah yang penuh di pojok westafel, pakaian yang masih hangat dan biasanya seperti tertawa mengejekku pun sudah tidak ada. Lantai rumah berkilat, memantulkan bayangan apa dan siapa saja yang menginjaknya. Lemari yang biasanya berdebu, sekarang sudah tidak lagi.

Sekarang aku tinggal memikirkan hadiah apa yang akan kuberikan pada suamiku nanti malam. Sudah 25 tahun kami bersama, suka duka sudah kami tempuh berdua. Meskipun kami belum dikaruniai anak, tapi kami tidak pernah sedikitpun ingin pisah atau ingin mencoba mencari peruntungan dari lelaki atau wanita lain diluar sana.

Seperti ulang tahun pernikahan sebelum-sebelumnya, aku berusaha mempersiapkan sesuatu yang akan menjadi surprise untuknya. Tapi kali ini aku sangat bingung, kejutan apa yang akan aku buat, sepertinya semua ide sudah pernah aku lakukan. Entah mengapa, aku malas untuk melakukan sesuatu, pasti apapun yang akan aku lakukan, suamiku akan tahu, karena prosesi seperti ini bukan untuk pertama kalinya.

Aku duduk di sudut ruang tamu sambil menatap keluar rumah, mungkin ada inspirasi diluar sana, tapi entah mengapa, aku tidak semangat seperti acara tahun-tahun sebelumnya. Tiba-tiba seorang wanita mengetuk pintu dan mengucapkan salam padaku, aku langsung membuka pintu.

“Cari siapa ya mba?”

“Silahkan duduk mba.” Aku mempersilahkan wanita tersebut duduk.

Wanita itu bercerita panjang lebar, aku terus mendengarkan dengan seksama detil demi detil ceritanya, tidak ada niatku sedikitpun untuk memotong pembicaraannya.

Selang 1 jam, suara deru motor berhenti di depan pagar kami. Suamiku masuk ke dalam rumah dan mendapati kami sedang berbincang.

“Selamat, kamu akan jadi bapak” Aku menyerahkan foto USG ke tangan suamiku.

“Kau tidak perlu menjelaskan apapun, aku sudah tau semuanya” Aku melirik wanita tersebut.

“Ibuk..” Suamiku tampak lemas tak berdaya dihadapan kami.

Aku tidak perlu terkejut berlebihan dengan berita ini. Cepat atau lambat aku pasti akan mengalami hal ini, setidaknya aku sudah mempersiapkan hati sejak 2 tahun lalu, sejak kecelakaan itu.

Lelaki mana yang bertahan dengan wanita cacat dan mandul sepertiku, tidak akan ada!

Jangankan untuk hamil, untuk tegak berdiri saja aku kesulitan. Tak usah banyak bermimpi dia akan setia padaku, bertahan tanpa menceraikanku saja, sudah bagus.

Aku mengambil tongkatku dan masuk ke kamar mengunci diri. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri.

Ini adalah hadiah terindah untuk suamiku di ulang tahun perak pernikahan kami, tapi tidak untukku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s