Mencari sehat ke Penang

Papaku tetiba jatuh sakit.

Selama yang saya tahu, papa jarang sakit, apalagi masuk Rumah Sakit. Yang saya tahu, papa tidak pernah mengeluh ketika merasa sakit, beliau cukup ke apotik atau ke toko herbal, beli obat dan konsumsi obatnya sendiri, justru kami tahu setelah sampahnya berserakan di meja. Ketika ditanya, baru dijawab, “Kaki papa nyeri nak, asam urat kambuh.”

Pernah dulu sekali, sampai saya juga lupa saat itu saya duduk di kelas berapa, kalau tidak salah, pada masa SD, saat itu papa pernah masuk RS dan ada treatment endoskopi pada pencernaanya, saya tidak ngeh, sedang sakit apa papa saat itu.

Bulan pertengahan Juli 2017, dikabarkan papa lemas dan tidak berdaya. Beliau berasa tidak punya tenaga untuk mengangkat badannya, maunya tidur terus, rasa sesak juga menyiksa beliau ketika duduk dan bergerak saat shalat, nafas juga tidak enak ketika harus menarik nafas panjang dan tidak ada nafsu makan. Tidak pernah-pernahnya papa seperti ini, biasanya papa adalah papa yang semangat, secapek apapun beliau beraktivitas, beliau tidak pernah mengeluh sedikitpun.

Kerja dari pagi sampai pulang malam, masih bisa beliau menyempatkan shalat isya di masjid dan ikut pengajian wirid bapak-bapak di lingkungan rumah, pulang larut dan besok pagi bangun subuh ke mesjid dan bekerja kembali. Pernah juga, bahkan sering, beliau dinas keluar kota beberapa kali dalam sebulan, ke kota tujuan dengan transit dulu di Jakarta lalu ketika pulang ke Medan pun, beliau transit terlebih dahulu. Ini sangat melelahkan, tapi papa tidak pernah mengeluh, malah selalu sempat membawakan kami oleh-oleh. Saya selalu takjub dengan semangat dan tenaga beliau menjalani hari-harinya.

Sampai dikabarkan papa sakit dan saat itu beliau masih menyempatkan diri datang ke Jakarta dan bertolak ke Yogyakarta untuk menghadiri acara wisuda S2 adik saya. Dalam kondisi yang sepertinya tidak memungkinkan itu, beliau berusaha membahagiakan kami, terutama adik saya, pergi membawa diri bersama mama dan adik bungsu saya, sampai di Jakarta beliau hanya bisa tidur dan di Yogyakarta pun, beliau hanya keluar untuk yang penting saja, selain itu beliau tidur di penginapan.

Karena kondisi papa yang memprihatinkan seperti itu, kami memutuskan untuk membawa papa ke dokter. Hasil dari pemeriksaan EKG, ada sedikit pergerakan jantung yang kurang stabil (siskemik jantung), diagnosis dokter ada sedikit jantung koroner. Papa diharuskan menginap sehari di RS Bethesda Yogyakarta untuk mendapatkan vitamin jantung karena perasaan lemas yang tidak kunjung mereda. Alhasil, tidak ada pengaruh apa-apa dengan treatment itu, perasaan lemas masih saja menyerang papa, papa hanya bisa tidur dan tidak selera makan. Kami putuskan, papa akan diperiksa kembali di RS di Medan.

Saatnya kembali, saya harus kembali ke Bekasi, tempat dimana keluarga kecil kami tinggal. Papa, mama kembali ke Medan dan ikut serta adik-adik saya juga karena mereka sedang liburan. Sesampainya di Medan, papa harus dirawat langsung di RS, dokter bilang akan diobservasi terlebih dahulu, sepertinya ada penyempitan pembuluh darah di jantung sehingga mengakibatkan sesak.

Segala bentuk treatment diuji coba, obat-obatan dan infus pun sudah diberikan, namun tidak ada sedikitpun perubahan. Yang dirasakan masih sama, malah cenderung lebih buruk, tidak ada progress yang berarti. Selama seminggu papa harus dirawat tanpa kepastian di RS tersebut, sampai suatu saat dokter berinisiatif untuk memeriksa paru papa dan alhamdulillah, titik terang penyakit papa mulai muncul. Setengah paru kanan papa tertutup kabut, mungkin itu penyebab mengapa selama ini papa sesak dan lemas, tapi sayangnya, dokter spesialis penyakit dalam yang satu ini tidak mau memberikan wewenang baru kepada dokter paru. Adik saya sebagai perwakilan keluarga sudah mencoba mengatakannya, tapi tidak sedikitpun digubris beliau, akhirnya, kami memaksakan diri pulang. Entah apa tujuannya menahan papa dalam pengurusannya, padahal sudah diketahui penyebab pasti penyakit papa, kami tidak ingin bersu’udzon 😦

Papa pergi bersama adik bungsu ke sebuah tempat praktik seorang dokter spesialis paru yang konon katanya paling bagus di Kota Medan. Beliau mendiagnosa bahwa ada sekitar 2 liter cairan pada paru kanan papa yang berkabut. Cairan tersebut harus dikeluarkan melalui selang agar papa cepat berangsur baik, jika disembuhkan hanya menggunakan obat, maka waktu yang diperlukan akan bertahun. Papa yang sudah tidak tahan dengan kondisinya saat ini memutuskan untuk melakukan pembedahan, mengeluarkan cairan menggunakan selang, akhirnya diputuskan untuk treatment esok harinya.

Singkat cerita, treatment selesai dilakukan, papa harus menunggu beberapa hari sampai cairan di paru tersebut tidak keluar lagi, kurang lebih seminggu di RS, sampai akhirnya diizinkan pulang ke rumah.

Sebetulnya, dokter paru yang menangani papa saat itu, cukup baik keilmuannya, tapi mengecewakan dalam hal komunikasi pada pasien dan keluarga pasien. Bagaimana tidak? Dokter ini tidak mau berbicara banyak, jika kita bertanya, dia diam saja, seringkali melemparnya pada suster yang menangani pasien.

Selalu menggunakan masker dan ngaret, malah kita pernah menunggu lama, dengan enaknya dia mengatakan tidak jadi datang praktik dan menyuruh kita ke tempat praktiknya yang notabene harus menggunakan biaya pribadi. Sebagai informasi, sekalinya ke tempat praktiknya, biaya yang harus dikeluarkan sebesar 350.000 rupiah, belum obat-obatan dan diharuskan datang 2 minggu sekali, mengenaskan bukan?

Kami betul-betul tidak sreg dengan kriteria dokter seperti itu. Sangat fokus pada uang, komersil istilahnya. Selain biaya dokter yang harus bertambah karena permintaannya, pembelian obat pun diminta beli di apotik yang sudah ditunjuknya, huffth benar-benar menguras perasaan dan uang 😦

Saya yang mengunjungi papa pada saat itu sangat gregetan melihat tipikal dokter yang seperti itu. Mulai dari papa dirawat di RS sebelumnya, lalu di RS yang ini juga, saya pribadi menilai bahwa dokternya cukup mengecewakan, pantas saja banyak pasien di Indonesia lebih memilih berobat ke luar negeri dibandingkan berobat di negeri sendiri.

Suatu hari teman papa datang dan menawarkan untuk ikut bersamanya ke RS Lam wah ee di Penang. Sebetulnya saya sudah tahu terlebih dahulu tentang RS ini, saya sudah merekomendasikannya ke papa, tapi tidak disambut baik karena takut biayanya mahal. Meskipun saya sudah menjabarkan tentang RS ini secara detil, tapi papa tetap tidak tertarik, sampai pada akhirnya setuju untuk pergi ke Penang karena ikut temannya yang juga akan berobat di sana.

Singkat cerita, akhirnya papa, mama dan teman papa sampai di Penang. Mereka langsung meluncur ke tempat penginapan yang sudah dipesan sebelumnya. Di Penang banyak sekali tempat menginap, kita bisa memilih, mau menginap di rumah atau sejenis apartemen, biasanya penginapan tidak jauh dari rumah sakit, sehingga kita cukup berjalan kaki untuk dapat mencapai RS. Di penginapan pun, kita dapat memasak, mencuci dll, tapi jika butuh makanan halal, banyak juga dijual disana.

Setelah beristirahat, papa pergi ke RS, untuk datang ke RS tersebut tidak perlu mendaftar jauh-jauh hari, pendaftaran akan dilayani pada saat kita sudah berada di RS tersebut. Sebetulnya ada kantor perwakilan RS Lam Wah ee di Medan, tapi kita dapat menghubungi mereka untuk mendaftar penjemputan di Bandara Penang.

Kembali ke RS, karena datang ke RS sudah siang, maka papa diminta kembali datang esok pagi. Lalu mendaftar dan menunggu untuk dipanggil dan dilayani dokter paru. Rumah sakit ini paling murah di Penang, sehingga yang mengantri sangat banyak. Tibalah giliran papa yang diperiksa, singkat cerita, diagnosa penyakit papa dengan diagnosa dokter yang di Medan, sama, sehingga tidak perlu jauh bolak balik Medan-Penang. Obat yang digunakan pun sama, tersedia lengkap di Indonesia. Kami sangat lega karena setidaknya penyakit papa tidak separah yang dipikirkan dan obat yang digunakan sudah benar.

Akhirnya, papa mencari dokter lain yang lebih enak diajak komunikasi dan diagnosis yg sama dengan yang di Indonesia, sehingga tidak perlu balik lagi ke Penang. Alhamdulillah dapat dokter yang cocok di RS Swasta Singapura di Medan, sehingga kontrol rutin dapat dilakukan disini.

Syukur sebanyak-banyaknya, papa sudah mulai pulih dari penyakitnya.

Semoga bermanfaat 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s